Hubungan Hormon Kortisol dan Shalat Tahajud

Topik kita kali ini yakni Hubungan Hormon Kortisol dan Shalat Tahajud yang Perlu Diketahui. Terkait dengan irama sirkadian, dapat dipahami bahwa kortisol dibutuhkan untuk melawan stres harian, hanya saja yang dihindari adalah pengaruh negatifnya yang mampu menekan sistem imun yang bisa berakibat seseorang menjadi rentan sakit. Pertanyaannya adalah bagaimana caranya untuk menurunkan kadar secara umum, sehingga Anda sehat dengan sistem imun tinggi namun saat yang sama tetap kuat menghadapi tekanan sehari-hari?

Hubungan Hormon Kortisol dan Shalat Tahajud

Hubungan Hormon Kortisol dan Shalat Tahajud

Inilah kuncinya: Tahajud

Shalat Tahajud yang dijalankan dengan tepat, kontinu, khusyuk dan ikhlas mampu menumbuhkan persepsi dan motivasi positif dan memperbaiki suatu mekanisme tubuh dalam mengatasi perubahan yang dihadapi atau beban yang diterima. Mekanisme ini terbentuk melalui belajar dan mengingat. Tahajud dalam hal ini menjadi salah satu jalannya. Mekanisme ini dikenal sebagai coping.

Respon emosi positif dan coping yang efektif dapat mengurangi reaksi stres. Memang diakui bahwa coping tidak menyelesaikan masalah, tapi menolong subjek mengubah persepsi atau meningkatkan kondisi yang dianggap mengancam. Dengan demikian, dapatlah dipahami bahwa respon emosional positif atau coping yang efektif, sebagai dampak langsung dari shalat Tahajud, mampu menghambat pengeluaran kortisol berlebihan.

Manfaat Shalat Tahajud

Untuk melengkapi pembahasan tentang manfaat medis dari shalat tahajud ini, mari simak penuturan Dr. Abdullah Azzam sebagai berikut :

“Aku dan beberapa ikhwah pernah berjumpa dengan salah seorang ulama amilin mujahidin yang tidak pernah ketinggalan Qiyamul Lail (Shalat Tahajud) waktu semalam. Di dalamnya beliau baca satu juz penuh dan beliau melipatgandakannya pada bulan Ramadhan. Semua ini dengan catatan bahwa beliau sudah lanjut, beliau mengidap penyakit gula, hipertensi dan beberapa penyakit lainnya. Di belakang beliau, kami (waktu itu kami masih muda) merasa kecapekan, bahkan terkadang ada di antara kami yang sengaja menghindar. Padahal, sebenarnya kami bertugas dengan beliau di rumah sakit untuk beberapa hari saja, bukan untuk selamanya”.

“Ikhwan yang menetap bersama beliau, tentu saja mengerjakannya secara kontinu setiap malam. Karena itulah suatu hari setelah Syekh keluar dari ujian yang menimpa beliau, aku katakan kepada diriku sendiri, ‘Sesungguhnya, faktor terpenting dari kesuksesan beliau adalah Qiyamul Lail dan Shiyam (puasa) yang beliau kerjakan. Meskipun para dokter selalu memperingatkan beliau tetap shiyam yang beliau kerjakan, meskipun beberapa kali beliau mengalami dehidrasi sebagai akibat dari penyakit gula yang beliau derita. Aku katakana kepada diriku lagi, kiranya rahasia kekuatan Syekh dalam menghadapi berbagai kesulitan dan siksaan di saat umur beliau sudah lebih dari lima puluh tahun, mata telah buta dan beberapa penyakit ganas menggerogoti tubuh beliau, kiranya rahasia ini semua adalah Qiyamul Lail”.

“Beliau tiada henti memompa kekuatan demi kekuatan bagi hati sehingga tertanamlah semangat yang tinggi dan tekad yang membaja. Anda akan melihat, di dalam tubuh yang lemah dan badan yang kurus kering, terdapat ‘azam yang dapat meruntuhkan gunung-gemunung dan memporak-porandakan benteng pertahanan. Semua karena tadzallul (merendahkan diri) beliau kepada Allah yang terus menerus. Semua karena kekhusyukan beliau hanya kepada Allah saja”.

Bukti Tahajud

Bukti sudah jelas di hadapan. Lalu, masihkah kita memaksa untuk membutakan diri daripadanya? Ayo, segera beramal, Tahajudlah!

Demikian info tentang Hubungan Hormon Kortisol dan Shalat Tahajud semoga bermanfaat.

Referensi :

Ternyata belajar internet itu mengasyikan, apalagi bisa punya penghasilan 20 jutaan per bulan... rasanya gimana gitu... Tapi gimana cara belajarnya?? Klik gambar di bawah untuk dapat solusinya

loading...

Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.